IRSX Percepat Produksi Film dan Micro Drama Berbasis AI
PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) melalui anak usahanya, PT Folago Artificial Intelligence Commerce (FAIC), mempercepat pengembangan produksi film, micro drama, dan commerce dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Direktur Utama IRSX Subioto Jingga mengatakan perusahaan akan meningkatkan kapasitas produksi konten berbasis AI melalui dua segmen utama, yakni AI Commerce dan AI Entertainment.
Langkah tersebut mencakup pengembangan AI TVC, AI Live Streaming, dan artificial intelligence-generated content (AIGC) melalui platform KreasiKita. Sementara itu, segmen AI Entertainment mencakup AI Movie, AI Micro Drama, dan AI Music.
FAIC Kembangkan AI Commerce untuk Ekosistem Digital
Subioto menjelaskan pengembangan teknologi AI juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem online commerce. FAIC menyiapkan solusi AIGC agar pelaku usaha dapat memproduksi konten pemasaran secara lebih efisien.
Perusahaan memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu UMKM memperoleh akses terhadap produksi konten berbasis AI dengan biaya yang lebih terjangkau.
Menurut Subioto, pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi IRSX untuk membangun posisi sebagai perusahaan yang terintegrasi dalam industri AI, media commerce, dan entertainment di Indonesia.
“AI model ini hadir sebagai enabler yang mempercepat proses eksekusi ide, membuka ruang bagi tim kreatif untuk lebih eksploratif dalam menghasilkan konten berkualitas sesuai kebutuhan output,” kata Subioto dalam keterangan resmi di Jakarta.
Ia mengatakan pemanfaatan AI memungkinkan tim produksi mempercepat proses pengerjaan sekaligus memperluas ruang eksplorasi kreatif. Teknologi tersebut juga mendukung kebutuhan konten untuk berbagai lini bisnis dalam ekosistem Folago.
baca juga: Saka Energi Mengebor Sumur Migas Eksplorasi di Blok Pekawai, Kalimantan
Dreamina Seedance 2.5 Perluas Kapasitas Produksi Video
Dalam pengembangan produksi konten, FAIC memanfaatkan model video-generation seperti Dreamina Seedance 2.5. Teknologi tersebut memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk mengembangkan berbagai format video sesuai kebutuhan produksi.
Dreamina Seedance 2.5 merupakan model AI video generation yang menjadi penerus Dreamina Seedance 2.0. Salah satu kemampuan yang ditonjolkan adalah menghasilkan video berdurasi hingga 30 detik dalam satu kali proses.
Durasi tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan versi sebelumnya. Kemampuan menghasilkan scene yang lebih panjang dapat mengurangi kebutuhan untuk menyatukan banyak klip pendek dalam proses produksi.
Model tersebut juga mendukung penggunaan hingga 50 referensi, termasuk gambar dan video. Fitur ini memungkinkan kreator mengendalikan karakter, gaya visual, serta gerakan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
“Model ini juga mendukung hingga 50 referensi untuk kontrol lebih presisi terhadap karakter, gaya, dan gerakan,” ujar Subioto.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi salah satu cara FAIC memperluas kemampuan produksi konten visual. Perusahaan dapat menggunakannya untuk mendukung kebutuhan iklan, commerce, hiburan, hingga produksi cerita dalam format micro drama.
AI Dorong Produksi Micro Drama dan Entertainment
IRSX juga mengarahkan kemampuan AI video generation untuk memperkuat segmen AI Entertainment. Pengembangan tersebut mencakup produksi AI Micro Drama, AI Movie, dan AI Music.
Micro drama menjadi salah satu format konten yang dapat memanfaatkan proses produksi berbasis AI. Format cerita berdurasi singkat membutuhkan kemampuan produksi yang cepat agar dapat menyesuaikan tema dan kebutuhan distribusi digital.
Dengan dukungan AI, perusahaan dapat mempercepat sejumlah tahapan kreatif dalam produksi konten. Teknologi tersebut juga memberikan ruang bagi tim kreatif untuk mengembangkan variasi visual dan konsep secara lebih fleksibel.
Subioto mengatakan penggunaan AI video generation akan memperkuat kapasitas produksi perusahaan pada segmen tersebut. Teknologi itu sekaligus menjadi bagian dari strategi Folago dalam mengembangkan ekosistem AI, media commerce, dan entertainment.
IRSX Bidik Pertumbuhan Industri AI Video Generation
Dari sisi pasar, Subioto melihat industri AI video generation terus berkembang seiring meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan dalam produksi konten digital.
IRSX menilai perkembangan tersebut membuka peluang bagi FAIC untuk memperluas eksposur perusahaan terhadap sektor teknologi kreatif. Perseroan juga melihat potensi penggunaan AI dalam kebutuhan pemasaran digital dan perdagangan berbasis konten.
Menurut Subioto, adopsi teknologi oleh UMKM akan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan bisnis tersebut. Peningkatan penggunaan AI oleh pelaku usaha dapat memperluas kebutuhan terhadap layanan produksi konten berbasis teknologi.
“Khususnya jika didukung oleh angka adopsi UMKM yang terukur ke depannya, dan berpotensi memposisikan IRSX sebagai pemain utama produksi konten berbasis AI di Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa IRSX tidak hanya menempatkan AI sebagai teknologi produksi. Perusahaan juga mengarahkannya sebagai infrastruktur pendukung bagi berbagai aktivitas dalam ekosistem digital.
FAIC Siapkan Teknologi AI untuk Lintas Bisnis Folago
Pengembangan FAIC juga diarahkan untuk menghasilkan kapabilitas AIGC yang dapat digunakan di berbagai lini bisnis Folago. Teknologi tersebut berpotensi mendukung kebutuhan social commerce hingga live entertainment.
Subioto menilai kemampuan AIGC dapat menjadi enabler lintas lini dalam ekosistem perusahaan. Integrasi tersebut memungkinkan pengembangan teknologi AI tidak berjalan secara terpisah dari bisnis media commerce dan entertainment.
“Kemitraan strategis melalui FAIC ini tidak berdiri sendiri. Kapabilitas AIGC yang dibangun berpotensi menjadi enabler lintas lini bisnis dalam ekosistem Folago,” kata Subioto.
Ke depan, IRSX akan memperluas penggunaan AI untuk meningkatkan kapasitas produksi konten sekaligus mendukung kebutuhan commerce digital. Pengembangan AI Commerce dan AI Entertainment menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun ekosistem yang menghubungkan teknologi, konten, perdagangan, dan hiburan.
Strategi tersebut menempatkan produksi film, micro drama, dan konten commerce sebagai bagian dari pengembangan bisnis berbasis AI. IRSX juga melihat peluang pertumbuhan melalui perluasan adopsi teknologi tersebut, terutama di kalangan pelaku UMKM dan industri kreatif Indonesia.
baca juga: Mendag: Transaksi UMKM BISA Ekspor Januari-Agustus capai 347 dolar AS



