KAI Optimalkan Pemanfaatan Aset untuk Tingkatkan Pendapatan Non-Tiket
Pendapatan KAI Masih Didominasi Penjualan Tiket Kereta Api
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI terus mendorong strategi bisnis baru dengan mengoptimalkan pemanfaatan aset perusahaan. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan pendapatan di luar penjualan tiket atau pendapatan non-fair box.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan struktur pendapatan perusahaan saat ini masih sangat bergantung pada operasional kereta api. Sekitar 96 persen pendapatan KAI berasal dari penjualan tiket perjalanan kereta api.
“Saat ini KAI 96 persen pendapatannya berasal dari operasinya kereta. Hanya 4 persen yang disebut dengan non-fair box atau pendapatan di luar tiket,” kata Bobby saat berdiskusi dengan awak media dalam perjalanan Kereta Wisata dari Yogyakarta menuju Jakarta, Rabu.
Menurut Bobby, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah operator transportasi rel di negara lain. Beberapa perusahaan kereta api internasional telah mengembangkan sumber pendapatan alternatif sehingga kontribusi bisnis non-tiket menjadi lebih besar.
KAI Dorong Optimalisasi Aset yang Belum Maksimal
Bobby menjelaskan KAI memiliki berbagai aset yang masih dapat dikembangkan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi. Perusahaan akan memanfaatkan aset tersebut agar tidak hanya menjadi fasilitas pendukung operasional, tetapi juga menghasilkan pendapatan baru.
Ia menyebut langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta perusahaan negara meningkatkan tingkat pengembalian aset atau return on asset (ROA).
Bobby mengungkapkan tingkat pengembalian aset KAI saat ini masih berada di kisaran 2 hingga 2,1 persen. Angka tersebut masih perlu ditingkatkan agar aset perusahaan dapat memberikan manfaat yang lebih optimal.
“Pada saat ini baru 2,1 persen. Bagaimana aset-aset yang underleverage ini mulai kita berdayakan,” ujar Bobby.
Optimalisasi aset menjadi salah satu strategi KAI untuk mengubah pola bisnis yang selama ini masih bergantung pada satu sumber pendapatan utama. Perusahaan ingin membangun model bisnis yang lebih beragam dan berkelanjutan.
baca juga: BI: Bali butuh konektivitas kereta api perkuat diversifikasi investasi
Empat Strategi Utama KAI Tingkatkan Kinerja Bisnis
Bobby mengatakan KAI kini memperkuat empat pijakan utama dalam meningkatkan pendapatan perusahaan. Strategi pertama adalah memperkuat operasional kereta api agar layanan kepada pelanggan semakin efektif dan kompetitif.
Strategi kedua yaitu mengoptimalkan aset perusahaan melalui berbagai peluang bisnis. Pemanfaatan aset tersebut dapat mencakup pengembangan kawasan, fasilitas pendukung transportasi, maupun sektor usaha lain yang memberikan nilai tambah.
Strategi ketiga adalah meningkatkan jumlah pengguna layanan atau ridership. KAI akan terus memperbaiki kualitas layanan agar semakin banyak masyarakat memilih transportasi kereta api untuk berbagai kebutuhan perjalanan.
Sementara strategi keempat adalah memperkuat industrialisasi kereta. Langkah ini mencakup pengembangan ekosistem bisnis perkeretaapian agar KAI tidak hanya berperan sebagai operator transportasi, tetapi juga memiliki kontribusi lebih luas dalam industri nasional.
Bobby menilai diversifikasi bisnis menjadi kebutuhan penting bagi KAI. Perusahaan tidak ingin hanya mengandalkan pendapatan dari tiket perjalanan, tetapi juga mengembangkan sumber pemasukan lain yang berasal dari aset dan layanan pendukung.
KAI Belajar dari Operator Kereta Internasional
Bobby menyampaikan sejumlah operator kereta api di dunia telah berhasil meningkatkan kontribusi pendapatan non-tiket. Model bisnis tersebut menjadi referensi bagi KAI dalam mengembangkan strategi perusahaan ke depan.
Operator transportasi rel seperti di Jepang dan pengelola MRT Hong Kong, misalnya, telah mengembangkan berbagai bisnis pendukung yang memanfaatkan aset serta ekosistem transportasi.
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan transportasi dapat memperoleh pendapatan tambahan dari berbagai sektor tanpa hanya bergantung pada tarif perjalanan penumpang.
KAI melihat peluang serupa dapat diterapkan dengan menyesuaikan kondisi dan potensi aset yang dimiliki perusahaan di Indonesia. Pengembangan bisnis non-tiket diharapkan mampu memperkuat kinerja keuangan sekaligus meningkatkan nilai aset perusahaan.
KAI Siapkan Transformasi Bisnis Berkelanjutan
Upaya meningkatkan pendapatan non-tiket menjadi bagian dari transformasi bisnis KAI dalam menghadapi tantangan industri transportasi yang terus berkembang.
Dengan memperkuat pemanfaatan aset, meningkatkan layanan, dan mengembangkan model bisnis baru, KAI menargetkan kinerja perusahaan yang lebih sehat dan kompetitif.
Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kontribusi aset perusahaan terhadap pendapatan serta mendukung keberlanjutan bisnis KAI dalam jangka panjang.
baca juga: Said Iqbal Beri Dua Usulan Ini untuk Purbaya



