glebderujinsky.com – Pesawat N250 Gatotkaca, rancangan langsung dari B.J. Habibie, sukses melakukan penerbangan perdana di langit Kota Bandung. Tiga puluh tahun lalu, tepat pada 10 Agustus 1995, Indonesia mencatatkan tonggak sejarah penting tersebut dalam dunia teknologi dirgantara.
“Baca juga : Samsung Umumkan Jadwal Rilis One UI 8 dan Android 16”
Disaksikan oleh Presiden Soeharto, momen ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas), yang diperingati setiap 10 Agustus.
Sayangnya, masa depan pesawat buatan dalam negeri itu tak bertahan lama. Krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an memaksa pemerintah menghentikan proyek ambisius ini sebagai bagian dari kesepakatan bantuan utang dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Sejak saat itu, pesawat N250 hanya menjadi simbol potensi yang belum sempat diwujudkan sepenuhnya.
Setelah tertahan di hanggar PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)—yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia—selama lebih dari dua dekade, pada 2020 pesawat N250 Gatotkaca akhirnya dipindahkan ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Yogyakarta.
Di sana, ia berdiri sebagai saksi bisu cita-cita besar bangsa dalam membangun industri pesawat terbang nasional. Secara teknis, N250 dibekali mesin ganda turboprop Allison AE 2100C bertenaga 2.439 kW dengan enam bilah baling-baling. Kecepatan maksimalnya mencapai 610 km/jam, tertinggi di kelas turboprop 50 penumpang.
Pesawat ini memiliki teknologi canggih fly-by-wire—yang saat itu hanya digunakan oleh Airbus A320 dan Boeing 777. Ini menjadikannya pesawat komuter pertama di dunia yang menggunakan sistem kendali digital tersebut.
Habibie dan tim IPTN juga menyiapkan empat varian desain N250: Gatotkaca, Kerincing Wesi, Konconegoro, dan Putut Guritno. Dua di antaranya sempat menyelesaikan fase uji coba, namun seluruh program akhirnya dihentikan sebelum tahap sertifikasi rampung.
N250 Gatotkaca: Jejak Kejayaan Teknologi Dirgantara Indonesia yang Kini Bersemayam di Museum
Proyek ini menyedot dana hingga US$650 juta, dengan target penjualan minimal 260 unit untuk mencapai titik impas pada tahun 2007. Direktur PT Dirgantara Indonesia, Elfien Goentoro, mengonfirmasi bahwa sertifikasi sempat dimulai namun tak pernah selesai. “Dua sudah terbang. Sudah mulai start sertifikasi, tapi belum tuntas, sampai krisis terjadi dan proyek ini dihentikan,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Kini, keberadaan N250 di museum bukan hanya sekadar artefak, melainkan lambang dari semangat inovasi bangsa yang pernah menyala terang. Meski proyeknya kandas, warisan teknologi dan dedikasi ilmuwan Indonesia di era itu tetap menjadi inspirasi.
“Baca juga : Ramuan Herbal Ampuh Redakan Sakit Gigi Cepat di Rumah”
Melihat ke depan, kebangkitan industri kedirgantaraan nasional masih mungkin terwujud. Dengan pengembangan teknologi dan dukungan kebijakan yang tepat, semangat Pesawat N250 bisa menjadi fondasi untuk lahirnya generasi pesawat buatan Indonesia selanjutnya.



